“Sebagian besar pasangan mengalami gangguan kesuburan karena sperma.
Jadi pradigmanya harus diubah. Nomor satu yang harus diperiksa adalah
laki-laki dulu,” ujar Konsultan Fertilitas dari Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia- Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Budi Wiweko.
Budi menjelaskan, kualitas sperma yang buruk bisa disebabkan oleh faktor genetik dan gaya hidup tidak sehat seperti merokok. Kualitas sperma yang buruk misalnya, terlalu cair atau tidak kental dan kelainan bentuk. Kelainan bentuk misalnya tidak memiliki ekor sehingga membuat sel sperma sulit berenang menuju sel telur
Budi menjelaskan, kualitas sperma yang buruk bisa disebabkan oleh faktor genetik dan gaya hidup tidak sehat seperti merokok. Kualitas sperma yang buruk misalnya, terlalu cair atau tidak kental dan kelainan bentuk. Kelainan bentuk misalnya tidak memiliki ekor sehingga membuat sel sperma sulit berenang menuju sel telur
Masalah lainnya adalah jumlah sperma yang sedikit, yaitu hanya di
bawah 5 juta per cc. Bahkan ada pria yang tidak menghasilkan sel sperma.
Normalnya, seorang pria memproduksi sperma lebih dari 15 juta per cc.
“Kalau sperma nol atau tidak ada sama sekali, bisa dioperasi. Sperma
akan diambil dari buah zakar,” ujar dokter spesialis obstetri dan
ginekologi ini.
Namun, jumlah sperma yang cukup banyak belum pasti terjadi pembuahan,
jika tidak dibarengi kualitas sperma yang baik. Sperma pun dikatakan
baik apabila memiliki gerakan yang normal, yaitu bergerak cepat dan maju
lurus. Ada pula gerakan lambat dan sulit maju lurus, bergerak di tempat
tanpa maju, atau tidak bergerak sama sekali.
Untuk menjaga kualitas sperma, pria juga sebaiknya menjauhkan organ
vitalnya itu dari udara panas. “Hindari terlalu lama berendam di air
hangat, memangku laptop, karena suhu testis harus lebih rendah dari suhu
tubuh,” terang Budi.
Selain gaya hidup, masalah pada sperma juga bisa berasal dari pabrik
sperma atau testis. Misalnya, testis terkena penyakit seperti virus atau
infeksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar